Kamis, 20 Oktober 2011

bicara dengan Tuhan

“Tuhan , terimakasih untuk semua nikmat yang sudah Engkau berikan untuk hidupku , aku tidak tahu lagi bagaimana menunjukkan rasa terima kasihku untuk-Mu, aku fikir aku bukanlah manusia yang bisa mensyukuri nikmat-Mu dengan baik , nyatanya aku masih saja mengeluh ketika Engkau memberikan nikmat dalam bentuk kesedihan untukku”
Mungkin aku terlalu rapuh untuk menganggap diri aku kuat , namun bukankah aku hanya manusia biasa yang tak luput dari nafsu duniawi yang juga telah Engkau sediakan , bahkan aku tidak pernah rela jika orang yang aku cintai Engkau ambil secara perlahan .Aku mengerti sesuatu yang telah Kau berikan , suatu saat pasti bakal Kau ambil lagi , tapi aku lebih mengerti ketika keegoisan sedang merasuki sudut dalam tubuhku . Aku paham aku hanya seorang tokoh dalam drama yang sedang Kau sutradarai , aku seperti mengerti jalan permainan-Mu tapi aku tidak paham apa tujuan yang sedang Kau maksud , ya kembali lagi ke kodrat ku . Aku hanya makhluk yang Kau ciptakan dari pertemuan sel sperma dan sel telur orang tua ku . Aku anggap aku adalah orang pilihan , karena bisa dilahirkan ke dunia untuk mengabdikan diriku untuk-Mu , tetapi sekali lagi aku tidak paham jalan cerita ku . Aku terlalu mengikuti air mengalir tanpa pernah mencoba untuk mengerti dimana arusnya . Aku hanya sekedar menjalani kehidupanku , kehidupan palsu tanpa kejujuran yang terbentuk . Mungkin juga aku memiliki kepribadian ganda yang sulit untuk ditebak , karena aku sendiri pun tidak cukup mudah untuk memahami diriku , apalagi orang lain yang sedang berusaha mencintaiku .  Layaknya lautan yang luas , jika aku di masukkan kedalamnya dan bertemu makhluk ciptaan Tuhan lainnya , mungkin aku akan langsung tenggelam karena  aku fikir “kehidupanku bukan disana” , namun apakah seekor ikan pernah meminta dirinya untuk hidup didunia dan merasakan apa itu daratan ? aku rasa tidak , karena menurutku seekor ikan adalah salah satu contoh makhluk ciptaan tuhan yang bisa mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan , tapi seekor ikan bukanlah pembanding yang cukup baik untuk seorang manusia seperti aku . Kalau di ibaratkan , aku itu seperti harimau “menerkam segalanya tanpa memikirkan apa yang terbaik untukku” . namun sampai aku menutup mata sekali pun dan kembali ke sisi-Mu segala pertanyaan yang membelenggu tentang diri-Mu dan ciptaan-Mu dalam jiwaku takkan pernah terjawab satu pertanyaan pun . Ini hanya masalah waktu yang akan mengajarkanku tentang sandiwara kehidupan yang memang harus aku perankan .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar