Jumat, 07 Oktober 2011

pilihan hidupmu tertanam dalam dirimu

Dari kecil , yang aku tahu pekerjaan itu hanyalah dokter . Ketika teman ibu,ayah dan teman ku sendiri menanyakan "apa cita-citaku nanti?" , tanpa berfikir panjang " Dokter .... !!" namun lambat laun aku mengerti cita-cita itu apa , itu hanya sekedar titik point kita menuju kesuksesan . Tidak ada yang menjamin kan pekerjaan dokter akan membuat hidup seseorang bahagia sampai akhir hayat dan tidak ada juga yang menjamin orang yang tidak punya cita-cita itu akan susah seumur hidupnya .
karena aku terlahir didunia kedokteran , "ibu,ayah,abang dan kakakku" mengambil jurusan fakultas kedokteran yang menuntut aku harus mengambil jurusan IPA , aku tidak merasa itu sebuah tuntutan atau sebuah kewajiban , tetapi memang menurutku jurusan IPA lebih memiliki peluang untukku , setidaknya kalau aku tidak terpilih di wilayah jurusan IPA waktu kuliahnya nanti , aku bisa mengambil jurusan IPS . Namun jika dari awal aku mengambil jurusan IPS , itu tentu susah untukku mengikuti tes di wilayah IPA itu sendiri .
Awalnya aku fikir tidak ada perbedaan antara jurusan IPA dan IPS  karena semuanya menuntut kita belajar untuk meraih cita-cita .Dan ketika aku telah menjalani rutinitas ku di jurusan ini , jujur aku merasa lelah . Hari-hariku penuh dengan ulangan dan nafasku sesak karena harus mengerjakan tugas semalaman yang harus dikumpul besok , belum lagi nilai-nilai yang terkadang tidak mencukupi standar kelulusan yang membuat aku harus mengulang kembali mempelajarinya . Enak kalau yang di pelajari itu sekedar mata pelajaran bahasa inggris , agama ataupun seni budaya . tetapi ini malah kebalikannya , banyak sekali mata pelajaran yang tidak tuntas seperti matematika,kimia,fisika dan biologi dan harus butuh watu berhari-hari untuk lebih memahaminya dengan baik .Sekilas memang hidup terasa berat banget , tapi kalau di nikmatin bakal terasa biasa aja . aku cuman menganggap ini baru awal menuju kesuksesan , umurku masih 16 tahun aku masih bisa berkarya dan memiliki mimpi untuk meraihnya tapi disisi lain aku sadar ,waktu hanya bersisakan setahun lagi menuju puncak keremajaanku dan pintu membuka bangku perkuliahanku . Semuanya ada ditangan ku , ini bukan saatnya lagi untuk mempersalahkan jurusan yang aku ambil , tapi ini masalah cara untuk membuat IPA ku menjadi yang terdepan . Untuk saat ini , cita-citaku masih sama karena mungkin aku belum menemukan pengetahuan banyak tentang masalah lapangan pekerjaan lainnya.
 aku sempat berfikir , bukan kah aku hanya seorang wanita yang hakikinya hanya menjadi istri yang baik kelaknya ? toh setinggi apa pun aku berkarya , aku tak mampu merubah kodratku sebagai seorang wanita . Tapi tetap saja pendapatku dikira konyol oleh beberapa orang disekelilingku .
malah pernah ada yang mengatakan kepadaku seperti ini "itulah gunanya Ibu Kartini dengan kokohnya mempertahankan emansipasi wanita untuk membuat harga diri wanita dihargai , ini bukan masalah kita mengalahkan atau dikalahkan , bukankah dunia ini sudah ada tempat dan bagian per makhluknya jadi berkarya lah sesuai kemampuan kita , tak ada yang menuntut kita menjadi yang terbaik melainkan keegoisan hati kita sendiri kan (?)"
jadi yang menuntut kita menjadi terbaik atau lebih baik itu sebenarnya bukan orang lain tetapi tanpa kita sadari , diri kita sendirilah yang menuntut itu , diri kita lah yang membuat kita mampu untuk menjalankan apa yang kita fikir tidak mampu sebelumnya .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar